Indonesian Marketing in Bite Size

Mengupas Marketing dalam Prostitusi Online

Mengupas Marketing dalam Prostitusi Online

Disclaimer:

  1. Saya belum pernah terlibat bisnis prostitusi. Analisa dalam tulisan ini dibuat berdasarkan data dan teori yang dikumpulkan dari berbagai sumber
  2. Tulisan ini tidak mengulas sisi moralitas dalam bisnis prostitusi. Selain karena sudah banyak, saya merasa tidak cukup kredibel untuk melakukannya
  3. Sekalipun saya ingin bicara tentang unsur patriarkis dalam cara pemberitaan kasus prostitusi online di Indonesia, saya tidak akan membahasnya dalam tulisan kali ini

Oke, mulai.

Saya selalu percaya bahwa marketing hadir dalam setiap aktivitas transaksional. Pun dalam kasus prostitusi online belakangan ini, yang terkuak makin lebar karena konon melibatkan sejumlah nama selebritas, finalis kontes kecantikan serta para pejabat dan pengusaha kelas kakap.

Dengan menganalisa kerangka marketing prostitusi online, menurut saya kita bisa akan bisa sedikit memahami bagaimana bisnis ini mampu diam- diam bertahan dengan omset miliaran dan basis klien loyal yang tidak bisa dibilang kecil.

Salah satu teori marketing paling klasik tentu saja adalah Marketing Mix, atau yang lebih dikenal juga dengan 4 P – Product, Price, Place and Promotion. Teori yang pertama kali dipublikasikan oleh E. Jerome McCarthy pada tahun 1960 dan kemudian dipopulerkan oleh Phillip Kotler ini sering digunakan untuk memastikan sebuah strategi marketing telah mencakup semua unsur yang dibutuhkan membuat sebuah produk sukses diterima pasar.

Jadi, seperti apakah Marketing Mix dalam bisnis prostitusi online di Indonesia? Mari kita buka.

Product

Menurut teori 4 P dari McCarthy, elemen Product mencakup design, fitur, kualitas, branding, packaging hingga service dari komoditas yang ditawarkan. Dalam konteks kasus prostitusi online, Product ini adalah para perempuan cantik yang belakangan disebut sebagai penyedia jasa prostitusi.

Banyak yang bertanya, “Artis ngapain sih pake jual diri?” Well, status beberapa dari mereka sebagai public figure justru adalah personal branding yang dinilai mampu mendongkrak nilai jual mereka di mata klien. Service mereka saya yakin juga mencakup kerahasian informasi klien, yang hebatnya, dipegang teguh hingga detik terakhir.

Tapi, berbeda dengan kasus human trafficking yang seringkali terjadi pada perempuan dari golongan marginal, para perempuan yang terlibat kasus prostitusi online ini perlu secara sadar, sukarela, dan penuh perhitungan menjadikan dirinya sebagai produk. Produk yang memiliki otoritas sendiri untuk menentukan pasar mereka, dan mungkin, bagaimana acara mereka akan dipasarkan.

Price

Ada beberapa komponen cost yang menjadi penentu harga dalam transaksi prostitusi; fee untuk penyedia jasa, agency fee untuk mucikari, service cost yang berarti ongkos tutup mulut dan penyesuaian layanan dengan selera klien, serta delivery cost yang mencakup tiket pesawat atau transportasi lain dan akomodasi hotel yang pantas untuk nilai transaksi. Kalau transaksinya puluhan juta nggak mungkin akomodasinya Airy Room dong ah.

Mucikari akan berperan besar dalam upaya penentuan harga. Meskipun belakangan ramai diberitakan price rate untuk kencan dengan sejumlah perempuan, saya rasa harga tersebut sebenarnya elastis. Tergantung profil klien (semakin high profile semakin tinggi ongkos tutup mulutnya), loyalitas klien (semakin loyal, harga semakin negotiable), dan naik turunnya popularitas produk. Bisa jadi lho, setelah ramai diberitakan, waiting list untuk sang produk justru jadi semakin panjang.

Belakangan beredar thread di Twitter yang bercanda tentang “Rp.80 juta udah bisa buat…” . Tapi, para klien prostitusi online bukanlah orang biasa. Menurut mereka, puluhan juta adalah harga yang pantas untuk membeli pengalaman seks dan bragging right tentang dengan siapa mereka tidur weekend kemarin. Pada akhirnya, ego tetap akan menjadi musuh sekaligus motivasi terbesar manusia.

Place                                                                                                                                                                                              

Menurut saya, frase “prostitusi online” sendiri kurang tepat untuk menggambarkan bisnis ini. Berbeda dengan situs- situs kencan di Amerika yang menawarkan biaya berlangganan untuk sejumlah konten dan interaksi dewasa, proses transaksi bisnis prostitusi di Indonesia tidak terjadi di dalam ranah digital. Media promosinya mungkin online, tapi tempat terjadinya transaksi tetap berupa bangunan fisik lengkap dengan interiornya. Seperti sebuah hotel di Surabaya, misalnya.

Kembali ke teori 4 P, Place mencakup elemen market coverage, channel selection & product distribution. Dalam konteks kasus belakangan ini, mucikari akan berperan besar menentukan market coverage produknya. Ia harus mampu menganalisa profi para calon klien dengan akurat untuk menentukan apakah mereka tertarik berbisnis, produk mana yang sesuai, dan berapa harga yang pantas.

Jika melihat besaran omset jaringan prostitusi online yang baru tertangkap kemarin, para mucikari tampaknya adalah mereka yang bisa dengan nyaman keluar masuk pergaulan kelas atas. Mereka harus cukup cerdas dan beradab untuk berbincang, bernegosiasi dan berbisnis dengan orang- orang paling berpengaruh di negara ini. Bisa jadi, nama- nama para mucikari tidak dibuka ke publik karena mereka pun sebenarnya orang- orang penting. Atau, dilindungi orang- orang penting.

Promotion

Jika sebelumnya promosi prostitusi kelas atas hanya disebarkan di kalangan terbatas; dari mulut ke mulut, mungkin juga lewat pesan whatsapp atau private message social media, sekarang semua orang tahu keberadaan bisnis ini, pasar yang bersedia membayar, dan nilai transaksi yang bisa didapat. Mulai sekarang, aturan promosi bisnis ini akan banyak berubah.

Pemberitaan besar- besaran tentang profil para perempuan yang terlibat kasus prostitusi online, besaran pendapatan mereka, dan mudah diaksesnya gambaran tentang gaya hidup glamor mereka, semuanya tak lain adalah bentuk dari promosi bisnis prostitusi online.

Jangan salah, pada masa dimana banyak orang merasakan tekanan besar untuk pamer kebahagiaan dan kemewahan di social media seperti sekarang, tak sedikit mereka yang akan tergiur dengan jumlah pendapatan yang bisa didapatkan dari prostitusi.

Apalagi, tidak ada sanksi hukum maupun sosial bagi para klien penikmat jasa kan? Identitas mereka saja tetap tersembunyi dengan rapi. Untuk mereka, tidak akan ada yang berubah. Mereka tetap merasa hebat jika mampu membayar kencan puluhan juta bersama seorang perempuan terkenal. Jika kasus sudah mulai terlupakan, mereka akan mencoba lagi.

 

Saya tetap tidak akan membahas unsur moralitas kasus prostitusi online kemarin. Setiap orang dewasa yang terlibat di dalamnya saya rasa sudah mampu menimbang dengan baik konsekuensi yang akan mereka terima dari pilihan mereka, seburuk apapun itu.

Yang saya khawatirkan adalah bisnis prostitusi di segmen yang lebih rendah. Prostitusi yang melibatkan anak- anak perempuan di bawah umur dari daerah terpencil yang mudah ditipu dengan rayuan mendapat pekerjaan bergaji tinggi karena terbatasnya akses informasi, lalu menjadi korban human trafficking, menerima kekerasan, terkena penyakit menular seksual, dan melahirkan anak- anak yang kemudian akan mereka telantarkan.

Jangan sampai, pemberitaan yang terlalu gencar dan tanpa sensor, berbagai candaan ringan di social media, dan para tersangka pelaku bisnis yang tidak akan berhenti mengupdate kemewahan hidup mereka di akun Instagram, justru menggeser nilai bisnis prostitusi itu sendiri di mata generasi yang lebih muda. Bahwa dengan prostitusi, mereka bisa hidup enak dengan mudah.

Jangan sampai juga, hanya karena ingin ikut trending topic, tanpa sadar kita ikut menormalisasi dan mempromosikan bisnis prostitusi itu sendiri. Menurut saya, prostitusi tetap tidak bisa jadi bahan bercanda.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *