Indonesian Marketing in Bite Size

3 Kesalahan CaLeg dalam Kampanye Diri

3 Kesalahan CaLeg dalam Kampanye Diri

Sebulan menjelang pesta demokrasi, rasanya saya tidak bisa kemanapun tanpa melihat wajah- wajah orang tak dikenal di berbagai material promosi di sepanjang jalan dari dan menuju kantor. Mulai dari material yang niat dan modal seperti billboard, hingga yang receh seperti banner ukuran A3 yang diikatkan di marka jalan atau jembatan penyebrangan.

Menurut saya, masa kampanye Calon Legislatif ini tak ubahnya perang marketing, dengan personal image para caleg sebagai bahan jualannya. Perang yang luar biasa brutal karena tak kurang dari 200 orang melakukan hal yang sama hanya untuk wilayah DKI Jakarta saja.

Pertanyaannya, benarkah personal image bisa dibangun dalam waktu 2-3 bulan saja? Lewat berbagai media luar ruang yang asal- asalan disampirkan dimana-mana?

Sebuah riset yang dirilis Brand & Marketing Institute Research pada tahun 2016 menunjukan bahwa media luar ruang masih merupakan salah satu media promosi yang paling berpengaruh pada calon konsumen di Indonesia. Angka paparanya 38%, setelah TV dengan 98% (Internet menduduki peringkat ketiga dengan 27%).

Tapi, ada hal- hal lain yang harus dicermati disini; media luar ruang yang disebutkan dalam riset ini hanya mencakup billboard (dalam standar pembelian iklan, ukuran minimal 4x6m) dan media luar ruang yang ditempatkan secara strategis di fasilitas kendaraan umum. Bukan banner apalagi poster ukuran cimit-cimit ya.

Ada beberapa kesalahan khas dalam upaya promosi diri yang saya perhatikan dilakukan secara konsisten oleh para calon legislatif di Indonesia.

1.Design Materi Promosi    

Setiap masa pemilu, komposisi dari design materi promosi mereka selalu sama; foto caleg, nama dan gelar, Dapil, nomor urut dan partai, kadang- kadang visi dan misi, ilustrasi kertas pencoblosan, dan untuk mereka yang kurang pede – foto bersama Ketua Umum partai pengusung mereka, Presiden Indonesia, atau kadang malah Habib Rizieq dan Ahmad Dhani.

Sepengalaman saya membuat berbagai materi iklan, terutama dalam format media luar ruang, kita harus sebisa mungkin menjaga satu buah media untuk mengkomunikasikan 3 hal saja; brand, pesan inti, dan visual yang mendukung.

Sekarang, bandingkan dengan materi komunikasi para caleg – setidaknya ada tujuh konten! Kan pusing ya, mana yang harus diingat. Ingat mukanya, lupa Namanya. Ingat Namanya, lupa dapilnya, atau partainya. Lupa namanya, ingat rasanya *eh

 Hal lain yang harus diperhatikan adalah, media luar ruang ibarat jaring. Tugasnya hanyalah mendapatkan atensi. Tapi, untuk merubah persepsi seseorang, atau membuat seseorang melakukan suatu tindakan setelahnya, dibutuhkan lapisan komunikasi yang lebih kompleks.

 

2.Eksekusi Materi Promosi 

Sulit untuk saya bersimpati pada caleg yang materi promosinya berupa banner berukuran A3 yang ditempelkan begitu saja di marka-marka jalan dan di pepohonan. Peduli amatlah tentang visi misi dan zodiak mereka, jika mematuhi aturan periklanan daerah yang paling dasar saja mereka gagap.

Di luar kesalahan fatal itu, saya juga menemukan beberapa caleg yang begitu ambisius menyebar materi promosinya di seluruh penjuru DKI Jakarta. Seorang bapak Caleg dari Dapil II DKI Jakarta saya temukan wajahnya bertebaran di seluruh Jagakarsa. Inilah yang disebut promosi salah sasaran, karena meskipun sehari 3 kali saya melihat wajahnya, saya tetap tidak akan bisa memilih di luar Dapil saya, apalagi jatuh cinta si Bapak ini *hiya.

 

3.Pemanfaatan Media Digital

Belakangan, yang saya lakukan setelah melihat wajah seorang Caleg di banner yang saya lewati di jalanan adalah stalking media sosialnya.

Beberapa Caleg terbilang sudah cukup sadar untuk memanfaatkan media sosialnya demi kepentingan kampanye. Seorang Caleg dari PDIP bahkan mencantumkan akun Facebook dan Instagramnya yang aktif setiap harinya dengan update kegiatannya bicara dengan masyarakat di Dapilnya. Beberapa Caleg muda dari PSI dan Partai Demokrat lebih kreatif dengan mendokumentasikan secara rapi interview- interview mereka di media, membuat video pendek tentang visi-misi mereka, dan mengkurasi foto- foto cantik dengan caption yang baik.

Banyak yang lainnya, not so much. Saya pernah menemukan seorang Caleg PKB yang malah sibuk sharing tentang usaha kulinernya di twitter. Lah, menurut Bapak jadi wakil rakyat itu cuma kegiatan ekstra-kurikuler atau gimana?

Saya juga ingin menyoroti tentang kurangnya keterlibatan partai dalam mempromosikan caleg- caleg mereka. Sejauh yang saya tahu, hanya website Partai Solidaritas Indonesia yang punya laman khusus untuk memuat profil, informasi singkat bahkan kontak Caleg- caleg mereka. Partai-partai lain seolah membiarkan calonnya berjuang sendirian. Hal ini menurut saya kurang bijaksana, mengingat kredibilitas seorang Caleg banyak dipengaruhi oleh kondite partai yang mengusungnya.

 

Akhir kata, saya tahu kelihatannya naif untuk menilai kredibilitas dan kualitas seorang Caleg hanya dari materi promosinya atau media appearance nya saja. Tapi, sebagai pemilih, sumber informasi apa lagi yang kita punya?

Jarang ada pemilih yang punya banyak waktu luang untuk browsing satu persatu informasi tentang Caleg di Dapilnya (itupun jika ketemu informasinya via browsing). Lebih tak ada waktu lagi untuk sowan ke rumah masing- masing Caleg dan bersilaturahmi. Pak, Bu, mending saya ngantri di kasir Big Bad Wolf.

Jadi, saya rasa sudah saatnya para Caleg menyikapi dengan lebih serius strategi promosi mereka di masa kampanye ini. Strategi yang sudah basi sejak satu dekade lalu mbok ya jangan dipakai lagi. Karena logika saya – jika mempromosikan dirinya sendiri saja ia setengah- setengah, apalagi nanti ketika harus memperjuangkan aspirasi warganya?



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *