Indonesian Marketing in Bite Size

Memanfaatkan Trend “Diet Plastik” di Indonesia

Memanfaatkan Trend “Diet Plastik” di Indonesia

Waktu ke Bali weekend kemarin, saya gembira ketika mampir ke Starbucks untuk take away Iced Latte lalu diberikan gelas dengan tutup yang didesain sedemikian rupa supaya kita bisa minum minuman dingin tanpa perlu menggunakan sedotan. Langsung sruput gitu. Terakhir saya beli kopi di Starbucks Jakarta, tutup gelas seperti ini belum ada.

Bali diketahui menjadi daerah yang paling awal dan konsisten memberlakukan gerakan mengurangi plastik. Hal ini tidak hanya berupa himbauan kosong oleh Pemprov, tapi diserap dengan sepenuh hati oleh para pelaku usaha mereka. Kalau kita main ke Watercress atau Milk & Madu, mereka bahkan sudah menggunakan sedotan bambu sejak tahun lalu.

Di belahan Indonesia yang lain pun, gerakan mengurangi sampah plastik mulai ramai digalakan oleh masyarakat, yang didominasi oleh para millennial. Mulai dari bawa tumblr sendiri untuk beli kopi, membawa canvass bag untuk belanja, hingga yang menurut saya paling niat – mengantongi sedotan stainless steel lengkap dengan pembersihnya kemanapun pergi.

Dari mana saya tahu ini? Dari postingan netizen yang budiman tentu saja hohoho.

Hal ini menarik untuk saya, karena ini bukanlah kali pertama pemerintah kita mengeluarkan amanat untuk mengurangi sampah plastik. Ingat bulan Maret tahun 2016 ketika wacana kantong plastik berbayar mulai ramai?

Tapi, lantas mengapa keseruan hemat plastik baru ramai sekarang di Indonesia, dan bukannya 3 tahun yang lalu? Menurut saya setidaknya ada 3 faktor penyebab;

 

Fenomena global yang suportif 

Greta Thunberg, seorang siswa SMU berusia 16 tahun dari Swedia menjadi nominator penerima Nobel Peace Prize berkat upayanya memulai gerakan Youth Strike for Climate sejak tahun 2018 untuk menyuarakan desakan terhadap penanganan global warming. Youth Strike for Climate diadopsi anak- anak muda berbagai belahan dunia yang lain. Tercatat ada kegiatan unjuk rasa di 1,659 kota di 105 negara dilakukan oleh para anak muda di bulan Maret 2019. Informasi dan semangat gerakan ini tak ayal menyebar hingga ke Indonesia. Bagus sih menurut saya, daripada generasi millennial dan Gen Z kita sibuk berdebat soal pilpres atau Syahrini vs Luna Maya yekan.

 

Issue Ambassador yang tepat

Pada tahun 2016, aturan kantong plastik berbayar dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam bentuk Surat Edaran Dirjen KLHK Nomor SE/8/PSLB3/PS/PLB.0/5/2016 tentang Pengurangan Sampah Plastik Melalui Penerapan Kantong Belanja Plastik Sekali Pakai Tidak Gratis.

Aturan ini sempat diuji cobakan selama 3 bulan sebelum kemudian ditolak dan dihentikan oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) pada Oktober 2016 karena maraknya penolakan masyarakat, ketidak seragaman adopsi SE KLHK menjadi Perda oleh Pemda, dan karena aturan ini justru memicu persaingan tidak sehat antara sesama pengusaha ritel.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada KLHK, mungkin seharusnya saat itu mereka melibatkan Ibu Susi Pudjiastuti.

Animo mengurangi sampah plastik di Indonesia kian kuat sejak Ibu Susi mengeluarkan statement di konferensi pers mengenai “Refleksi 2018 dan Outlook 2019” di Kantor Kementrian dan Kelautan pada Desember tahun lalu. Beliau menegaskan bahwa jika kita tidak mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, pada tahun 2030 diperkiraan jumlah sampah di Indonesia akan mencapai 30 ton, yang mana lebih banyak dari jumlah ikan di lautan Indonesia.

Susi Pudjiastuti telah menjadi bagian dari pop culture Indonesia. Kinerja, gaya, dan cerita hidup from zero to hero beliau telah menginspirasi banyak generasi muda. Karenanya, ia jadi punya kekuatan menggerakan massa. Antara itu, atau orang pada takut ditenggelamkan 😀

 

Human Motivation

Dalam buku Pay Off – The Hidden Logic That Shapes Our Motivation karya Dan Ariely, disebutkan bahwa kita cenderung lebih termotivasi melakukan suatu pekerjaan ketika berada setidaknya dalam dua kondisi;

  1. Kita terlibat dalam proses pengembangan inisiatif dan ide pekerjaan tersebut dan/ atau,
  2. Kita melihat bahwa pekerjaan tersebut berkontribusi pada hal yang lebih besar

Kali ini, kesadaran hemat plastik itu tumbuh secara organik dalam bentuk membawa sedotan stainless steel ke coffee shop atau menenteng canvass bag yang fashionable untuk belanja (sambil kemudian posting di Insta Story, teteup), bukan dari aturan pemerintah yang bersifat top down dan tak menyisakan ruang untuk personalisasi. Dengan bantuan pers dan social media, kita pun tahu bagaimana gentingnya kondisi bumi jika gerakan nyata dan signifikan tidak segera dilakukan. Dua kondisi ini, membangun motivasi hemat plastik dalam diri banyak orang.

Saya melihat hal ini sebagai perkembangan yang sangat positif. Mumpung traksi sedang naik, sebaiknya pemerintah segera memanfaatkan momen dengan mengesahkan aturan plastik berbayar dan atau aturan lain untuk manajemen limbah plastik yang lebih baik. Tentunya akan lebih optimal jika gerakan ini didukung oleh para pelaku bisnis besar yang punya kekuatan brand dan budget promosi untuk mempengaruhi masyarakat.

Aqua telah mengeluarkan varian produk yang menggunakan 100% recycled bottle meskipun belum bisa banyak ditemukan di toko- toko ritel. The Body Shop & L’Occitaine telah lama mengeluarkan program poin untuk setiap kemasan kosong yang dikembalikan untuk di recycle. Gojek mungkin bisa membekali setiap drivernya dengan food container bag untuk memuat makanan yang dipesan via Go-Food, memberikan poin untuk konsumen yang bersedia makanannya diantar tanpa kantong plastik, untuk mengurangi limbah plastik yang berasal dari industri kuliner? Just an idea.

Saya sudah mulai membiasakan diri membawa canvass bag untuk belanja dan menolak sedotan plastik setiap makan di restoran. Harus diakui, untuk mengubah kebiasaan yang telah mandarah daging selama puluhan tahun ternyata butuh usaha dan konsistensi.

But it’s for a good cause, so it’s worth the effort. And with strong, collective effort, I believe we can make significant impact.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *