Indonesian Marketing in Bite Size

Bicara Politik yang Merusak Personal Branding

Bicara Politik yang Merusak Personal Branding

Akhirnya, pembatasan social media di Indonesia diangkat oleh Kominfo. Meskipun cukup sebal karena sempat tidak bisa update IG Story acara buka bersama dan belanja online baju lebaran tanpa menggunakan VPN, saya mengerti alasannya. Di tengah situasi politik yang amat sensitif, menjaga kondusivitas negara dari hantaman hoax dan penyebaran informasi tanpa konteks yang tepat adalah prioritas utama.

As expected, setelahnya timeline saya kembali banjir postingan bernuansa politik yang terbagi cukup rata antara pendukung kubu 01 dan 02. Sebenarnya, dari masa kampanye saya sudah bisa mengkategorikan siapa relasi yang mendukung paslon mana, dan bagaimana mereka melakukannya.

I might not engage with them, but I judged them silently, nyahahaha.

Tentu saja personal branding seseorang tidak bisa hanya dilihat dari preferensi politiknya. Tapi jika melihat intensitas komunikasi beberapa orang, mudah rasanya untuk berasumsi tentang kepribadian dan kapabilitas intelektual mereka.

Salah satu teori personal branding yang paling dasar diciptakan oleh seorang sosiologis bernama Erving Goffman, yang dirumuskannya dalam bahasan Dramaturgy. Menurut Goffman, kita membangun impresi dengan eskpresi. Ada dua jenis ekspresi;

  1. Ekspresi yang kita berikan; body language yang terkontrol dan kata- kata yang dipilih dengan baik
  2. Ekspresi yang kita lepas; inkonsistensi antara apa yang kita katakan dan perbuat, kata- kata yang tidak tepat sasaran, dan body language yang “terlalu jujur”

Social media sejatinya adalah ranah yang sangat bisa dikontrol. Secara teori, kita membutuhkan jeda untuk mengkonsepkan foto apa yang akan kita pajang, angle mana yang membuat kita terlihat lebih tirus, dan caption apa yang akan menyertainya. Secara teori juga, kita membutuhkan jeda yang cukup untuk membaca dengan seksama artikel atau curhatan politik seseorang dan mempertimbangkan dampak yang akan ditimbulkannya, sebelum menekan tombol “share”.

Sayangnya, yang saya lihat tidak selalu demikian. Social media telah terlalu diagung- agungkan sebagai “sarana untuk bebas berekspresi”. Akibatnya, banyak orang memposting hal yang mereka sesali di kemudian hari. Sudah berapa kali kita menyaksikan netizen yang harus meminta maaf secara publik untuk hal- hal yang mereka ketik di status ataupun katakan dalam sebuah video post?

Saya yakin, baik paslon 01 maupun 02 sangat paham pentingnya mengelola personal branding mereka. Come on, mereka punya satu tim yang khusus didedikasikan untuk itu. Diluar beberapa insiden merusak image yang layak dibahas di Lambe Turah, mereka sebenarnya punya gambaran jelas bagaimana mereka ingin dilihat secara personal maupun profesional.

The question is, do we?

Berdasarkan observasi saya, beberapa komunikasi politik yang sering dilakukan netizen, yang tanpa mereka sadari mengganggu personal branding mereka antara lain adalah;

 

Membagikan informasi dengan sumber yang patut dipertanyakan

Video kerusuhan kapan tau yang diposting seolah- olah baru saja terjadi, atau artikel click-bait dengan judul INILAH MENGAPA INDONESIA AKAN HANCUR! dari Prof. Tom dan Kyai Jerry. Sayangnya, setelah googling sebanyak 3 halaman, kita tidak bisa menemukan informasi tentang Prof. Tom dan Kyai Jerry yang sepertinya bijak bestari ini.

Saya mengerti jika beberapa orang tidak mempercayai pemberitaan media massa konvensional karena khawatir pada strategi media framing yang didorong berbagai kepentingan politik. Jika memang Prof. Tom dan Kyai Jerry ini betulan ada tapi kurang terekspos media, mengapa tidak membuatkan mereka sebuah portal social media dengan penjelasan yang lebih baik tentang kredibilitas mereka? Sehingga, segala upaya menyebar luaskan pemikiran mereka tidak terlihat begitu meragukan.

 

Menggunakan kata- kata yang tidak sesuai norma sosial  

Mengancam membunuh presiden petahana jelas salah, tapi menghina paslon 02 dengan sebutan “delusional” dan “sakit jiwa” juga tidak lebih baik. Menuduh kubu 01 sebagai “sesat & liberal” adalah tidak berdasar, sama derajatnya dengan menuding kubu 02 sebagai “teroris & tidak toleran”.

Perbedaan pendapat itu wajar, tapi jadi tidak wajar jika sudah disampaikan bersama dengan kata- kata kasar, nyinyir meremehkan, apalagi ancaman pembunuhan. Sungguh, ini kontra-produktif. Poin Anda mungkin masuk akal dan layak diperbincangkan secara beradab. Tapi pendekatan yang agresif membuat orang belum apa-apa sudah merasa terancam.

Percayalah, tidak ada yang suka diintimidasi. Ketika kita merasa terintimidasi, self-defense mechanism kita adalah flight or fight. Tidak ada ruang untuk mencerna pesan apapun yang berusaha disampaikan. Akhirnya, musyawarah untuk mufakat pun tidak tercapai.

 

Melibatkan SARA 

This should be table-stake for any decent human being.

 

Menunjukan inkonsistensi antara pesan dan image  

Inkonsisten adalah ketika membuat caption “Kami tertindas oleh rezim ini” tapi fotonya dari dalam mobil mewah sambil memangku tas Balenciaga.

Don’t get me wrong, tidak ada yang salah dengan memiliki kelebihan finansial dan masih memiliki concern yang tinggi terhadap keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tapi, jika konteksnya adalah menyuarakan preferensi politik untuk mempengaruhi orang lain, pilihlah narasi yang lebih konsisten dan bisa dipercaya.

Contoh inkonsistensi lain adalah membuat status sejenis “Ayo dong damai” tapi dilanjutkan dengan kalimat : “Kalau kalah ya kalah aja. Cuma orang pengecut yang tidak bisa menerima kekalahan” . Sungguh, siapapun bisa melihat motivasi di belakang komunikasi pasif-agresif seperti ini. Situ niatnya pengen damai atau ngajak berantem?

 

Prinsip saya, walaupun kita bebas memilih cara menyuarakan preferensi politik kita, kita tidak bebas dari konsekuensi sosialnya. Jangan sampai, upaya yang Anda lakukan untuk membangun personal branding seseorang, justru merusak personal branding Anda sendiri.

Selain karena dapat menutup prospek karir yang lebih baik dan merusak silaturahmi, perilaku seperti ini justru berpotensi menyakiti kredibilitas pihak yang Anda bela habis- habisan itu. Dan yang paling utama, pemanfaatan social media untuk bicara politik dengan cara yang negatif, sangat tidak relevan untuk kemajuan negara ini.

Come on people, we are better than this.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *