Indonesian Marketing in Bite Size

Highlight dari Brightspot 2019

Highlight dari Brightspot 2019

Sebagai anak (pengen) gaul Jakarta, saya merasa berkepentingan untuk hadir di gelaran Brightspot yang tahun ini memasuki kali ke-10 penyelenggaraannya. Sambil mengucap bismilah dan mengingat anjuran dari Jouska supaya tidak khilaf dalam menggunakan kartu debet, saya memasuki area event dan harus mengakui bahwa saya lebih menikmati Brightspot kali ini dibandingkan tahun- tahun sebelumnya.

Beberapa highlight dari gelaran Brightspot yang menurut saya layak dibahas antara lain adalah:

1. Tenant yang lebih banyak dan beragam

Meskipun tenant fashion tetap menjadi mayoritas, tapi tahun ini saya menemukan juga banyak tenant yang menjual make up, skin care, essential oil, pasta mentah, hingga sayuran dan produk hidroponik. Hal ini tentu menarik karena memberikan referensi lebih luas tentang jenis- jenis produk yang mampu dihasilkan oleh para entrepreneur Indonesia. Proses kurasi yang teliti agaknya tetap menjadi kekuatan terbesar Brightspot, yang kemudian menggaransi jumlah pengunjung yang tak pernah sepi, bahkan dari Opening Night yang hanya dibuka dengan kuota terbatas. Hampir semua tenant tampil prima; baik dari display dan varian produk, hingga dekorasi.

Saya juga terkesan dengan kehadiran The Golden Space, salah satu holistic healing center terbesar di Jakarta, sebagai tenant Brightspot. Ditempatkan di pojok lantai ketiga dan sedikit dijauhkan dari tenant lain yang sungguh menguji hasrat kebendaan, The Golden Space menawarkan serangkaian jasa konsultasi energi, membaca kartu, dan pendaftaran kelas meditasi.

Meskipun semua orang tahu bahwa topik mental health dan holistic healing sedang hits saat ini, saya tidak menyangka bahwa pengalaman seperti ini akan dihadirkan di event seperti Brightspot. How refreshing.

2. Environment conscious message

Dengan maraknya perbincangan tentang kelestarian bumi belakangan ini, Brightspot agaknya berhati- hati agar tidak dianggap mendukung praktek fast fashion yang berakibat buruk pada lingkungan. Hal ini bisa dilihat dari beberapa tenant baru yang mereka libatkan. Seingat saya, baru tahun inilah Brightspot menghadirkan tenant seperti Demi Bumi dan Setali Indonesia.

Kemunculan Setali Indonesia khususnya menarik untuk saya, karena seolah mengingatkan kita pentingnya gaya hidup minimalis lewat decluttering, sementara di saat yang sama seluruh bagian event yang lain memprovokasi kita untuk berbelanja. Contradicting, yet intriguing.

Saya juga memperhatikan penggunaan plastik yang minimum di tenant- tenant makanan Brightspot kali ini. Tidak ada pula tenant produk fashion yang memberikan tas plastik pada pelanggan. Bahkan Aqua sebagai salah satu sponsor secara khusus mengedepankan produk terbaru mereka, kemasan 1 liter yang 100% dibuat dari plastik daur ulang.

3. Upgraded Brightspot App

Tahun lalu, saya cukup terganggu karena meskipun sudah mendapatkan free pass untuk Opening Night, saya tetap harus tertahan beberapa saat di pintu masuk event karena harus melakukan registrasi dengan proses yang cukup panjang di Brightspot App. Apalagi, saat itu Brightpot diadakan di mall Pacific Place dengan reception sinyal paket data yang kurang baik.

Belajar dari pengalaman itu, saya mendownload aplikasi Brightspot dan melakukan registrasi satu jam sebelum event dibuka. Saya merasa pengalaman menggunakan aplikasi kali ini lebih baik. User experience nya lebih ramah dan mudah digunakan, interface nya sederhana, update konten acaranya pun terasa pas; muncul secara berkala, informatif tapi tidak terlalu cerewet.

4. Kolaborasi Sponsor

Brightspot jelas tidak kekurangan sponsor pendukung tahun ini. Setidaknya, kita bisa langsung tahu bahwa Brightspot berpartner dengan Lazada, Dana, Intel, Dunhill, Aqua, XL, Nescafe, Johnnie Walker, dan Smirnoff.

Saya selalu tertarik dengan bagaimana para brand besar ini memanfaatkan event seperti Brightspot sebagai perpanjangan tangan aktivitas customer engagement mereka. Sejujurnya, saya merasa penyelipan Dana di saat registrasi App Brightspot sebagai alat untuk membeli tiket masuk seharga Rp.1 agak terasa dipaksakan. Sistem seperti ini tidak membuat pengunjung ingin menyimpan uangnya di Dana untuk melakukan transaksi di Brightspot. Terutama, karena tak ada tenant yang berjualan disana mengharuskan kita membayar dengan Dana ataupun menyediakan alat scan nya. Mereka dengan senang hati menerima cash, transfer e-banking, atau membayar debit dengan mesin EDC.

Saya juga tidak merasa kolaborasi Lazada dan Dana menarik. Untuk melakukan pembayaran, kita harus terlebih dahulu memiliki 2 aplikasi sekaligus; Dana & Lazada. Meskipun mereka menawarkan potongan harga, promo tersebut tidak ditawarkan secara aktif oleh para tenant. Selain itu, jika sudah ramai males banget ya harus pencet2 aplikasi dulu, belum lagi kalau loading. Mending langsung sabet bajunya terus bayar kan 😀

5. Lokasi Event

Harus diakui, District 8 sebagai venue tahun ini berperan besar dalam membuat penyelenggaraan event menjadi jauh lebih nyaman. 3 lantai mall yang belum terisi memungkinkan pengunjung untuk melihat- lihat tenant satu ke lainnya tanpa harus terlalu berdesakan. Sirkulasi udara pun terasa lebih baik. Lahan parkir mobil tersedia dengan mencukupi, kalau penuh pun masih bisa parkir di gedung- gedung sebelah. Belum lagi, stasiun MRT terdekat masih walking distance. Meskipun, jika Brightspot berencana mempertahankan atau malah menambah jumlah tenant yang terlibat tahun depan, venue seperti ini agaknya akan semakin sulit ditemukan di Jakarta.

 

Akhir kata, saya cukup puas dengan kunjungan saya ke Brightspot minggu lalu. Menurut saya, acara yang dibuat secara khusus untuk mengkurasi dan mengekspos produk- produk karya anak bangsa pada audience yang tepat, memberikan lampu sorot yang dibutuhkan untuk mereka bisa berkembang, sangat perlu diapresiasi. Langkah nyata seperti ini jelas lebih bermakna daripada sepotong slogan, “Cintailah produk- produk Indonesia.” :p



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *